Seperti janjiku pada diri sendiri, setiap hari akan ada waktu untuk membagi cerita. Apapun!
Tak ada yang istimewa di akhir Juni ini. Hanya perasaan bersalah karna kembali mengcancel niat untuk cuti tiga hari ke depan. Yaa, awal Juni aku berniat untuk menengok Emak, ingin mengetahui kabar dan keadaannya. Betapa merindukan pelukan dan kecupannya. Huufftt… Selalu tak pernah bisa menahan air mata jika membicarakan Beliau! T_T
Sedikit cerita untuk hari ini, mungkin tentang keadaan kantor yang mulai terasa kurang sehat. Sering aku berfikir betapa bossy-nya diri ini. Keadaan kantor yang masih jauh dari sempurna manajemennya, membuat diri ini merasa gatal sendiri untuk mengatur ini itu.
Ada beberapa teman yang bisa menerima sikapku, tapi tidak dengan teman-teman yang baru masuk. Beberapa bulan yang lalu, si Bos minta dicariin sekretaris dan resepsionis. Setelah interview beberapa orang, sebenernya sih g ada yang sreg dihatiku. Tapi semua keputusan kan ditangan si Bos. Alhasil, dapatlah 2 orang.
Untuk si Sekretaris, memang dari penampilan dan cara dia berbicara, menunjukkan bahwa dia sudah berpengalaman. Tapi ternyata dalam berjalannya kontrak, ternyata banyak ketidaksesuaian antara gaya, pengalaman serta sikapnya. Mulai dari caranya menyimpan dan kerapihan dokumen, sikap sehari-hari yang sibuk sama BB dan telponnya, dan kurangnya inisiatif. Pada saat itu, sejujurnya, aku teringat dengan keadaan waktu di Pasaraya antara aku dan Mba Ain, tak ada komunikasi. Memang serba salah sih, saat itu aku berharap Mba Ain bisa membimbingku, tapi mungkin Mba Ain justru berfikir untuk aku berinisiatif melakukan hal yang bisa dilakukan. Kembali ke Sekretaris, pada akhirnya dia hanya berubah 1-2 hari setelah ditegur oleh HRD. Dan keputusannya pun, di bulan ke – 3 kontrak selesai.
Si resepsionis justru sebaliknya, awal bekerja, dia begitu bersemangat. Ada beberapa hal yang kurang aku suka, tapi semua masih bisa dimaklumi, karna dia freshgraduate. Sampai berjalan bulan ke 5 dia bekerja, keadaan mulai berubah. Rasa maklum itu mulai menghilang. Terutama sejak kejadian beberapa minggu lalu. Saat aku minta tolong untuk men-scanning dokumen jam 5 sore. Dengan nadanya yang tinggi, dia bilang, “Lain kali kalo mau ngasih kerjaan, jangan pas jam mau pulang kerja downk!”. Hahaha.. emosi jiwa diteriakin begitu sama bocah. Sudah terlalu banyak rasa maklum untuk dia. Pasti aku akan bicara langsung sama dia mengenai semuanya.
Pada dasarnya, selama ini aku bawel adalah untuk kebaikannya juga. Sebagai resepsionis, harusnya dia mampu menjaga kebersihan dan kerapihan ruangannya, menggunakan waktun kosongnya untuk belajar apapun yang bisa dia pelajari, berinisiatif membantu temannya sekali lagi untuk belajar hal yang belum pernah dia ketahui, mencoba menggunakan otaknya untuk mengingat nomor telpon yaa.. paling tidak nomor telpon teman-teman kantor, dan yang pasti mengetahui tugas utamanya sebagai resepsionis yang menerima telpon atau tamu dan mengetahui siapa penelpon/tamu tersebut. Ambil contoh, seandainya kelak ada tawaran yang lebih baik, dari segi gaji maupun jabatan, ketika masa interview sudah terlalui, saatnya dia mulai bekerja, dan perusahaan baru menuntut dia untuk jauh lebih aktif dari sekarang. Apakah dia mampu mengimbangi??
Karna buat aku pribadi, bekerja bukanlah sekedar mencari uang, membuang waktu, mencari teman, tapi juga tentang bagaimana kamu bisa memanfaatkan waktu yang ada untuk belajar banyak hal. Hal yang tidak kita temui di sekolah, kampus, atau lingkungan luar lainnya. Seperti pengusaha atau entrepreneur, yang mungkin mencuri ilmu dari perusahaan tempat dia bekerja, sebelum akhirnya dia mampu membangun perusahaan sendiri!
Tapi kembali, kita tidak bisa mengukur kemampuan orang lain untuk sama dengan diri sendiri, atau sebaliknya. Oleh karna itu, biarkanlah dia bergerak semaunya. Dan aku hanya mampu menyesali keadaan seperti itu! Selamat, Teman! Anda tak akan punya pengalaman apa-apa jika hanya diam, tanpa inisiatif!